Kamis, 04 Juli 2013
Risalah KKN
RISALAH KKN
Sekuncup yang Terpikir,, Hingga Memekarkan
Sekuntum Harapan
=====================================================
“Jika Anda menginginkan satu tahun
kemakmuran, tanamkanlah benih. Jika Anda menginginkan sepuluh tahun kemakmuran,
tumbuhkanlah pohon. Jika Anda menginginkan seratus tahun kemakmuran, maka
metamorfosiskan lah manusia.”
(
PRIBAHASA CINA )
Bismillah ...
1.
Bila
Kalian mencari Penilai-an Akademis,, Maka Kalian akan dipaksa mengupayakan Program Kerja yang terbaik. Lain hal jika Kalian
mengutamakan Penilaian-NYA melalui Program Kerja yang terbaik, maka Kalian lah
yang akan dicari oleh Penilaian Akademis, begitu juga dengan Kekompakkan Tim
yang akan datang dengan sendirinya.
2.
Sebenarnya,,
ada Program Kerja Fudamental, baik sebagai Individu maupun sebagai tim yang
harus kalian lebih perhatikan terlebih dahulu, yakni Memahami Masyarakat
(termasuk Tingkatan Pendidikan, umur, Kesejahteraan, dll) secara Objektif.
Buatlah mereka merasa bahwa Masyarakat juga merupakan bagian dari Keluargamu,,
jika PROKER tidak berdasarkan Pemahaman ini, dikhawairkan PROKER hanya bersifat
"anget-anget tahi Ayam".
Atau bisa juga GAGAL. Selain itu,,
PROKER yang terlahir adalah PROKER yang Berbasiskan Kebutuhan Vital Masyarakat, bukan Keinginan Masyarakat,, apalagi Keinginan Mahasiswa/i . Kuulangi,, ProKer KKN adalah buah
dari Pemahaman dan Ke-ikhlasan dalam ke-masyarakat-an.
3.
Sejujurnya,,
dalam mengembangkan SDM masyarakat,, masyarakat
tidak membutuhkan Mahasiswa/i yang pintar dengan IPK diatas 3 atau
Mahasiswa/i kaya. Yang Masyarakat butuhkan hanyalah Mahasiswa/i yang bisa
mencintai mereka sebagaimana Keluarganya sendiri,, yang rendah hati dan mau
berkorban setulus mungkin.
4.
Perlu diketahui,, dari segi kuantitas
pemanfaatan waktu, ketika KKN maka kalian harus 70% diam atau mendengar
Masyarakat dan 30% bicara atau action, namun dari segi kualitas pemanfaatan
waktu,, maka kalian harus 70% Action dan 30% diam.
5.
Bukan
berarti kalian telah menjadi Mahasiswa/i kalian lebih mapan atau lebih jago
dibandingkan masyarakat dalam Pemanfaatan dan Pengembangan Teknologi Sosial yang ada. Jadilah ANAK MANIS ketika bermasyarakat. Jangan sungkan mengakui
ketidakmampuan atau kekuranganmu sebagai Mahasiswa/i. Ingat,, Mahasiswa/i yang baik hanya mengajari
Masyarakat, namun lain halnya dengan Mahasiswa/i yang bijak,, ia juga akan
belajar dari Masyarakat itu sendiri.
6.
Ada
4 Tipe Masyarakat : 1). Mayarakat yang tahu kalau mereka tahu 2). Masyarakat
yang tahu kalau mereka tidak tahu 3). Masyarakat yang tidak tahu kalau mereka
tahu 4). Masyarakat yang tidak tahu
kalau mereka tidak tahu. Nah,, Tipe Masyarakat yang seperti apakah yang kalian
temui sekarang ? ini bisa dipantau dari seberapa besar antusias atau dukungan
mereka terhadap kedatangan kalian.
7.
Sering
ada perbedaan yang besar antara apa yang mungkin dapat kalian kerjakan
dengan apa yang DAPAT DIKERJAKAN oleh kalian berdasarkan sumber-sumber
Internal yang ada.
8.
Mengingat
UIN SUKA memiliki citra ke-Agama-an yang lebih kental bila dibandingkan dengan
Universitas lainnya,, maka seYogyanya menjaga
dan memelihara citra tersebut sebaik dan seindah mungkin, mulai dari Disiplin
Shalat Berjamaah,, Tata cara berpakaian,, Tata cara menyapa,, tata cara
berjalan,, tata cara berbicara,, tata cara berkunjung kerumah Warga,, dsb harus yang Indah dan benar menurut Qur’an
dan Sunnah Muhammad SAW. Sepakat ?
9. Yang
harus lebih diperhatikan dari semua Point diatas adalah tentang Fokus terhadap
“Orientasi Proses”, bukan fokus pada
“Orientasi Hasil”. Right ??
Alhamdulillah
...
Terimakasih Risalah
KKN
Atsmofir Pemasaran Buku di Indonesia
“ATSMOFIR
PEMASARAN BUKU DI INDONESIA”
Oleh:
Rhenald Kasali
Sumber:
Jawapos 20 & 27 Juni 2011 (Memasarkan Buku I dan II)
Bismillah ...
Bagian
I
Banyak
pembaca bertanya, kalau tidak dengan cara bombastis, bagaimana cara memasarkan
buku? Maklum, ada-ada saja cara para pendatang baru memasarkan bukunya
belakangan ini. Mulai dari menebar uang recehan dan voucher seminar kepada
penduduk kampung dari helikopter, sampai mengirim peti mati.
Tidak
hanya itu, pengarang-pengarang baru itu juga mengajarkan cara-cara bombastis,
cenderung jalan pintas kepada anak-anak muda. Sementara itu, tanpa menggunakan
cara-cara seperti itu, saya sendiri bisa menjadi saksi bagi Anda, buku-buku
yang ditulis dengan baik bisa menembus pasar secara elok. Saat kolom ini
ditulis, saya baru menerima pemberitahuan dari penerbit bahwa cetakan ke empat
buku ke-19 saya (Cracking Zone) telah beredar. Padahal buku ini baru
diluncurkan empat bulan yang lalu.
Mungkin
bukan hanya Cracking Zone yang menjadi koleksi pembaca. Bagi saya, di era informasi
seperti ini buku yang baik akan berbicara sendiri. Sebaliknya, buku yang kurang
bagus, mau dipromosikan seperti apapun pasti akan sulit diterima oleh pasar.
Jadi mengapa tidak memulainya dari produk yang bagus?
Timbul
pertanyaan, kalau cara-cara yang sehat saja masih bisa dilakukan, mengapa harus
menggunakan cara-cara gila? Benarkah sebuah buku yang bagus isinya tidak akan
dilirik pasar?
Fiksi atau Non-Fiksi
Bukan
rahasia umum bahwa dunia buku adalah dunia fiksi. Buku-buku yang terjual
ratusan ribu, bahkan jutaan kopi adalah buku-buku fiksi. Sementara itu
buku-buku non-fiksi, kalau tidak menjadi perhatian publik atau tidak menjadi
bacaan wajib di sekolah, paling banyak hanya terjual sepuluh atau dua puluh
ribu kopi. Sedangkan mayoritas buku yang dibuat asal jadi, menjual seribu kopi
saja susahnya setengah mati.
Namun
dunia fiksi menjadi ramai karena banyak cerita dan karangan yang bisa diangkat
secara fiktif, baik dalam penokohan, pemasaran, kemasan, maupun event-nya. Maka
cara-cara fiktif dalam pemasaran buku fiksi adalah biasa.
Menjadi
masalah bila seorang penulis tidak bisa membedakan keduanya. Buku-buku
manajemen, ekonomi, science, dan self help (termasuk motivasi) adalah buku
non-fiksi yang harus ditulis berdasarkan fakta dan pengetahuan, bukan sembarang
bicara. Meski terlihat indah, mengharukan dan seakan memotivasi atau
seakan-akan benar, karya non-fiksi tidak dapat disajikan tanpa dasar.
Jadi
celakalah bila buku-buku non-fiksi yang dipasarkan dengan pendekatan fiktif,
apalagi bila dibuat bombastis. Buku Harry Potter misalnya, bisa saja dibuat
bombastis, memakai tokoh-tokoh animatif, diluncurkan tengah malam dengan ribuan
remaja mengantri. Tetapi saya tak akan melakukannya untuk buku-buku manajemen
(non-fiksi) yang saya tulis.
Jangankan
pemasaran, isinya pun harus ditulis dengan penuh kehati-hatian. Anda memerlukan
landasan teori untuk menyampaikan kebenaran meski bahasanya dibuat semudah
mungkin untuk dipahami dengan contoh yang dekat pada pembacanya. Mungkin Anda masih ingat kontroversi yang
dialami Robert Kyosaki yang terkenal dengan buku Rich Dad-Poor Dad-nya. Kisah
bapaknya yang kaya (yang menjadi fokus karyanya) di bongkar oleh John Reed
(Harvard) yang ternyata kisah yang diangkat Kyosaki hanya fiktif belaka.
Kalau
Anda dalami lebih jauh, Anda akan menemukan masalah moral di dalam buku ini
yang mungkin telah turut melahirkan orang-orang yang ingin cepat kaya yang
sekarang menjadi buronan polisi dan KPK. Masalah moral itu adalah serba
mementingkan si kaya, objektif
kewirausahaan adalah cepat kaya, berani berspekulasi, sekolah tidaklah penting,
dan jangan akui orang tua kandung kalau dia miskin.
Berbahaya
bukan? Entahlah bila Anda mengatakan tidak. Tetapi bagi saya, hal seperti ini
banyak kurang patutnya.
Nah,
bagaimana respons para pengikut Robert Kyosaki? Anda mungkin sudah bisa
menerka, para pengikut yang kurang cerdas, tentu akan beranggapan postulasi
Kyosaki benar. Mereka ingin cepat-cepat sukses dan cara-cara bombastis pun
digunakan. Buku mereka mungkin tidak sebagus buku yang benar-benar bagus, sebab
mereka beranggapan semua itu tidak penting. Yang penting heboh dan dibeli. Soal
dibaca nomor dua. Dipakai untuk hidup tidaklah penting, yang penting mereka
dianggap hebat, kreatif, dan berani. Lalu cepat menjadi kaya. Mereka lupa, buku adalah karya ilmiah. Dengan
buku, kita tidak asal bicara atau menulis. Kita menyajikan fakta, hubungan dan
kebenaran. Bukan asal bicara, asal gagah-gagahan. Kalau tak punya ilmu, tulis
saja biografi, tak usah sok ilmu-ilmuan, atau mencaci maki ilmu pengetahuan.
Inilah
cara-cara yang tidak dianjurkan, karena cara-cara seperti ini hanyalah cocok
untuk memasarkan buku-buku fiktif, yang hanya merangsang imajinasi. Minggu
depan akan saya lanjutkan dengan pengalaman saya memasarkan buku secara elok.
Selamat berkarya.
Bagian
II
Melanjutkan
kolom minggu lalu maka saya akan mengulas bagaimana memasarkan buku nonfiksi
secara lebih elok. Pertama-tama tentu
kita harus memahami bagaimana sebuah buku dipasarkan. Di negara-negara maju, penulis tinggal duduk
manis, penerbitlah yang bekerja keras memasarkan buku. Mereka berburu naskah-naskah bagus dari
pengarang atau ilmuwan terkemuka, dan bila ada kesepakatan maka penerbitlah
yang merancang strategi pemasarannya.
Semuanya tentu dimulai dari produk yang bagus, yang didisain secara
khusus, dipilih waktu yang tepat, dan dikomunikasikan melalui strategi promosi
tertentu.
Tendensi Asal-asalan
Namun
di sini situasinya terbalik. Penerbit
cenderung enggan berpromosi. Ada
tendensi mereka hanya berburu naskah sebanyak mungkin, bahkan siapa saja boleh
membuat buku, bagus atau jelek itu relatif.
Bahkan ada penerbit besar yang terkesan hanya punya target menerbitkan
naskah sebanyak-banyaknya dalam setahun.
Penulis-penulis muda yang cerdik memanfaatkan penerbit yang asal membuat
buku dengan membuat judul yang "menggoda" meski isinya sesungguhnya
tidak punya dasar ilmiah sama sekali.
Buku itu diedarkan ke toko-toko buku dengan dibungkus cover plastik, dan
pembaca kesulitan menerka isinya.
Ketatnya
persaingan antar penerbit dan antar buku membuat penerbit gelap mata. Bahkan
dalam industri buku-buku pelajaran sering kami temui buku-buku yang sangat
tidak bermutu yang dipakai sebagai buku acuan sekolah. Sebagai orang tua, saya masih sering duduk
bersama anak bungsu saya, menemaninya belajar dan menafsirkan isi buku yang
dipakai di sekolahnya. Dari situlah saya
mengerti, bagaimana anak-anak didik kita kebingungan mengikuti ujian nasional
atau kenaikan kelas. Buku-buku itu
ditulis dengan bahasa yang berputar-putar, terkesan ditulis oleh orang yang
kurang berilmu dan tak bisa menulis dengan baik. Rumus-rumus ditaburkan tanpa konsistensi
istilah, yang kalau dibaca halaman lebih lanjut akan lebih membingungkan. Saya tidak bisa mengerti apa rahasia seorang
anak didik bisa mendapat nilai yang tinggi di sekolahnya dari buku-buku wajib
yang dibuat seperti itu.
Dalam
industri buku umum, hal serupa juga terjadi. Ada pengalaman beberapa orang yang
tidak bisa menulis buku bisa berbangga mengaku sebagai penulis buku. Bukan, ia tentu bukan penulis. Pembaca saja
yang dikibuli. Buku itu adalah karya
penerbit yang menuliskan pikiran-pikiran orang itu. Mengapa penerbit mau melakukannya? Wajar saja kalau orang yang saya maksud
memiliki nama besar. Katakan saja sebuah
biografi yang menyangkut tokoh tertentu, wajar kalau bukunya dibuat dengan
bantuan penulis atau ghost writer. Tapi
yang saya maksud bukan ini. Buku self
help atau manajemen yang ditulis seorang pendatang baru ternyata juga bisa
dituliskan oleh penerbit hanya karena si penulis datang dengan iming-iming akan
membeli lima atau sepuluh ribu kopi.
Jadi Anda bisa bayangkan bagaimana controlling idea isi buku tersebut:
Amburadul dan asal terbit.
Unik
juga kok buku-buku seperti itu bisa laku dan penerbit senang saja membela
mereka? Jawabnya adalah karena penerbit
dapat uang. Dan saya saksikan buku-buku
itu dipasarkan penulisnya dengan diskon khusus, dibundling dengan seminar
bombastis, yang dilengkapi iming-iming paket seminar seharga lima juta rupiah,
tapi kalau beli buku seharga seratus ribu akan dapat seminar gratis. Ajaib ya? Buku itu laku bak pisang goreng.
Namun
demikian, seharusnya buku yang baik memang menjadi tanggungjawab penerbit dan
penulis. Penerbit harus mampu
mempromosikan isi buku dan membuatkan desain yang bagus, serta meletakkannya
pada lokasi yang strategis di toko buku.
Namun lagi-lagi karena penerbit dikejar target sekian ratus judul buku
dalam setahun, maka kesan mass production pun tak terhindarkan. Cover dan isi dibuat dengan desain asal jadi.
Bahasa dan content sulit dipertanggungjawabkan, dan akhirnya buku itu hanya
bertahan beberapa bulan saja di toko buku.
Menurut
saya, sebuah buku yang baik tak memerlukan bombastisme dalam pemasarannya
asalkan sedari awal penulisnya benar-benar memikirkan situasi yang dihadapi
pembacanya. Buku yang baik itu langka
karena ditulis dengan penuh kesungguhan, dari jam terbang penulisnya yang
tinggi. Ia menggabungkan ilmu
pengetahuan dengan kebutuhan praktis pembacanya. Bahasanya sederhana sehingga
mudah dipahami, kaya contoh, banyak ilustraasi dan isinya mengalir, penuh
pandangan-pandangan baru yang didapat dari kajian ilmiah.
Dengan
demikian, penulis buku yang bagus harus percaya diri. Tak perlu mengundang
sensasi seakan-akan buku yang bagus tak akan diperhatikan kalau tidak bombastis. Justru sebaliknya cara bombastis akan
mengundang kecurigaan pasar generasi baru yang sangat kritis. Kalaupun buku-buku seperti ini mendapat
pujian, kita pun dapat menerkanya, itu hanyalah pujian semu yang
dikarang-karang para penulis buku dan para karyawannya saja.
Sekarang
ini kita semua hidup dalam era jejaring sosial yang serba gratis. Pasarnya adalah Generation-C yang terhubung
satu dengan lainnya. Sebuah buku yang
bagus akan cepat diulas dari mulut ke mulut, dari satu layar monitor ke layar
monitor lainnya. Sebaliknya, buku yang
buruk akan dikutuk ramai-ramai pula.
Jadi dalam sosial media, Anda tak bisa lagi memasarkan buku dengan
jargon jualan kecap. Seperti kata-kata:
belilah, dasyat, tak ada duanya, dan seterusnya. Jelaskan saja bagian yang menarik, biarkan
pembaca menyimpulkan sendiri.
Peran Penerbit
Dulu,
penerbit masih sering beriklan. Namun
sejak tarif iklan pada media konvensional melonjak drastis, penerbit urung
berpromosi di media cetak. Penerbit
lebih menjalankan peran produksi dan distribusi, lalu bayar rolayti antara 10
hingga 12 persen. Paling jauh penerbit
hanya memberi dukungan minimal pada saat book launching.
Dari
pengalaman saya, sikap penerbit memang diskriminatif. Artinya, kalau Anda penulis besar dan nama
sudah dikenal, atau penerbit berkeyakinan buku Anda akan meledak, maka mereka
akan membuatkan program promosi yang bagus.
Mobil box distribusi akan dilengkapi billboard aneka warna, display
dipajang di toko buku, dan sesekali Anda akan ditampilkan di media massa. Selebihnya, penerbit hanya melaporkan berapa
royalti yang telah ditransfer setiap tiga bulan sekali.
Ini
berarti peran penerbit minimal sekali, dan lagi-lagi karena buku yang mereka
cetak dan edarkan setiap bulan jumlahnya sangat massal, sehingga tak ada
jaminan buku Anda akan bergerak dinamis hanya dengan menyerahkan nasib Anda ke
tangan penerbit. Dari situlah saya
meyakini, peran penulis sangat besar. Penulis harus bisa menjadi distributor
yang mampu menjual buku lebih banyak dari masing-masing toko buku. Tentu saja Anda tak perlu membawa peti mati
atau membakar petasan besar, cukup menstimulasi orang untuk mendiskusikannya.
Di era social media ini, buku yang baik akan betcerita dengan sendirinya. Jadi? Percaya diri saja, dan jangan berhenti
menulis. Perkaya ilmu Anda sehingga membuat pasar Anda percaya pada Anda, perbaiki kualitas buku Anda dari waktu
kewaktu, dan tak perlu lebay. [Rhenald Kasali]
Alhamdulillah ...
Terimakasih Atsmofir
Pemasaran Buku di Indonesia
Jumat, 28 Juni 2013
Tiga Aset dasar Pribadi Muda
TIGA
ASET DASAR PRIBADI MUDA
Bismillah ...
Ada
Tiga Aset (Sumber Kekayaan) Dasar TERPENTING yang harus betul – betul
diperhatikan oleh Anak Muda, karna ini adalah modal awal dalam melakukan
berbagai macam “transaksi” kehidupan dimanapun – kapanpun, diantaranya :
1.
Cara Berpikir
2.
Cara Berbicara
3.
Cara Bertindak
Dari
ke-Tiga Point diatas tadi, setidaknya kita memiliki Tafsir sederhananya guna
memberi gambaran atau penjelasan lebih lanjut, terlebih dalam
pengimplementasiannya:
1.
Cara
Berpikir
-
Teringat apa yang dinasehatkan oleh Bung
Karno, “Jangan pernah berpikir tentang Apa yang akan Bangsa Indonesia berikan
padamu, tetapi berpikirlah tentang apa yang akan kau berikan untuk Bangsa
Indonesia ini”, artinya kita jangan berpikir tentang apa yang akan didapatkan
dari lingkungan sekitar kita, tetapi berpikirlah tentang apa – apa yang akan
diberikan dari kita untuk lingkungan sekitar kita. (Menghilangkan mental
pengemis atau manja)
-
Ust anis Matta mengatakan: “Apapun
masalah kehidupan yang sedang dihadapi, pertama kali yang harus saya pikirkan
adalah: “Berpikirlah, tentang apa hikmah dibalik peristiwa atau masalah ini ?”
(Positive Thinking pada-NYA)
-
Memiliki pola Pikir Ekspansive, contoh:
“Daripada kita sibuk menghitung jumlah Musuh, lebih baik kita sibuk memenggal Leher
Mereka.” (Khalid bin Walid), artinya daripada kita sibuk menghitung jumlah
permasalahan, lebih baik kita sibuk menyelesaikan permasalahannya. Atau
sebagaimana yang dtegaskan oleh Abu Bakr r.a, beliau menegaskan: “Andaikan
hanya ada 100 Tentara Allah SWT yang pergi berjihad, maka akulah salah satunya.
Atau, andaikan hanya ada 10 Tentara Allah SWT yang pergi berjihad, maka akulah
salah satunya. Dan, Andaikan hanya ada 1 Tentara Allah SWT yang pergi berjihad,
maka itulah aku.” (Bukan masalahnya, terpenting adalah kitanya)
2.
Cara
Berbicara, diantaranya:
-
Self to self, yakni kita hanya perlu
berbicara dari hati, barulah ke lisan, agar telinga yang mendengar dapat
meneruskannya kelubuk hati orang yang mendengarkan.
Keterangan: A
(Hati) à
B (Lisan Pembicara) à C (Telinga Pendengar) à
D (Hati Sang Pendengar). Kalau ini terjadi, biasanya akan menelurkan 3 butir
kebijaksanaan dalam sebuah komunikasi: 1) Kesabaran, 2) Keindahan, dan 3) Hehati
– hatian dalam berbicara.
3.
Cara
Bertindak, karna terinspirasi oleh jumlah dua mata – telinga
– tangan – dan kaki, maka yang dapat kita tarik benang merahnya, diantaranya:
-
Lebih banyak melihat
-
Lebih banyak mendengar
-
Lebih banyak bekerja
Itu saja !! (^_^)
Alhamdulillah ...
Terimakasih Tiga
Aset Dasar Pribadi Muda
Rabu, 26 Juni 2013
Lingkaran Setan Wacana - In KKN
Lingkaran
Setan Wacana - Jawapos 15 Agustus 2011
Oleh:
Rhenald Kasali
Di
sebuah pulau terpencil, pada tengah
malam beberapa hari lalu saya menghentikan sebuah obrolan wacana. Tiga hari berkeliling pulau, dengan obrolan
panjang lebar, bertemu banyak orang, bagi saya sudah cukup untuk mengambil
keputusan. Dengan bantuan internet dan media jejaring sosial kita pun punya
kesempatan yang begitu luas untuk melakukan observasi, mendapatkan informasi. Maka bagi saya, dengan pengalaman panjang
turun ke lapangan, dua atau tiga hari berada di lapangan cukup untuk membuat
rencana tindakan.
Namun
apa yang terjadi? Pengalaman saya mengatakan, bangsa ini sangat senang
berwacana. Saat keputusan akan diambil,
sedikit sekali orang yang siap untuk bertindak. Membawa data, menetapkan arah,
memindahkan isi pikiran ke atas selembar kertas, dan membuat diagram besar yang
menuangkan mimpi ke dalam bagan organisasi sulit sekali dilakukan. Dimana-mana di negeri ini saya hanya
menemukan lebih banyak aktivis, penggerak sosial, mahasiswa, ilmuwan, dan
birokrat yang berwacana ketimbang yang bertindak dalam suatu wadah kesatuan.
Berwacana
menghanyutkan karena begitu indah, berputar-putar tanpa resiko, bisa melibatkan
siapa saja yang malas bertindak, bahkan melibatkan banyak orang yang takut
menghadapi realita. Berwacana adalah
berputar-putar, membawa akhir sebagai awal seperti kata Colombus, kita akan
berhenti pada titik dimana kita memulainya.
Bagi saya hal ini sungguh menyakitkan, membuat kita bodoh dan hidup
dalam kemiskinan, gelap.
Bluetooth Wacana
Setiap
kali saya menghadiri acara wedangan, begadangan, dialog, obrolan, diskusi atau
apa saja namanya, sayapun larut dalam suasana yang menyenangkan. Semakin malam, semakin banyak orang yang ikut
datang dan berbicara. Malam semakin
larut dan saya pun memutuskan untuk berhenti, namun saya juga menyesali untuk
meninggalkan tempat karena wacana itu begitu indah. Penuh tawa dan mimpi
indah. Namun, begitu Anda melayaninya,
Anda pun akan tenggelam dalam wacana. Dari hari ke hari yang dibicarakan tetap
sama, tak ada kemajuan, selain kemajuan wacana.
Kemajuan
wacana ditandai dengan informasi-informasi baru, orang baru,
kegamangan-kegamangan baru, keceriaan mentertawakan orang lain, menyalahkan
pihak lain, serta bagaimana cara mengerjai orang-orang yang melakukan
tindakan. Semua dilakukan dengan
harapan-harapan baru, namun sekali lagi, tak seorangpun yang berani mengambil
gunting memutus mata rantai impian yang tidak mengerucut.
Wacana
adalah gelombang magnet yang berputar melingkar tiada henti di atasbrain
memory. Ia berputar dari atas user-user,
melebar dalam lingkaran-lingkaran kecil yang berkembang, meluas dan mengundang
pikiran-pikiran manusia di sekitarnya yang siap menerima. Wacana berkembang dengan bantuan memory
bluetooth, persis seperti yang ada di ponsel Anda. Sekali Anda buka menu connectivity dan
menyalakan bluetooth, maka Anda siap menerima
informasi. Gelombang berputar
sampai Anda mematikannya.
Orang-orang
yang mendapatkan informasi, gambar, cerita, video atau apa saja dari lingkaran
di sekitarnya sudah merasa beruntung, menjadi lebih kaya informasi. Mereka senang karena memiliki informasi yang
dapat dibagikan kepada orang-orang lain, merasa berada dalaminner circle dan
tahu lebih dahulu dari rata-rata orang lain.
Informasi-informasi itu membentuk wacana-wacana baru di dalam keluarga
atau komunitas terdekatnya. Namun bagi
orang yang ingin bertindak, gelombang itu harus diputus karena hanya
menghasilkan manusia wacana yang enggan bertindak.
Bluetooth
yang tidak dipakai harus dimatikan, pada posisi off, dan semua orang harus
diajak masuk pada konsensus tindakan.
Selama tidak dimatikan, manusia tenggelam dalam mimpi, omong kosong,
menghindari resiko. Tanpa disadari,
manusia wacana beresiko tenggelam dalam gosip, kedengkian, dan fitnah. Muaranya jelas: kekalahan dan omdo (omong doang).
Ambil Kertas atau Flipchart
Bagi
saya, pemimpin sebuah gerakan adalah pemimpin yang tidak membiarkan
pengikut-pengikutnya tenggelam dalam wacana.
Ia harus menarik gelombang bluetooth yang berputar-putar ibarat
lingkaran setan itu ke dalam sebuah segitiga tindakan yang mengerucut. Menghentikan
hidup dalam impian kosong menjadi tindakan yang berujung. Tentu saja
mengajak keluar dari wacana membutuhkan
keluwesan. Anda tentu tak ingin
ditinggalkan orang-orang yang Anda cintai.
Anda ingin agar mereka bertindak, bukan meninggalkan impian itu ke dalam
karung sampah.
Maka
kepemimpinan memiliki peran penting.
Kepemimpinan adalah kekuatan pengaruh, menarik gelombang-gelombang itu
ke dalam sebuah tindakan riil. Ambillah
kertas atau bawalah flipchart besar yang dapat dilihat orang-orang yang tengah
bermimpi, bagi mereka ke dalam tugas-tugas spesifik, dan mulailah dari
tindakan-tindakan kecil yang bisa segera menimbulkan hasil. Batasi dalam bingkai waktu dan biaya. Bagi orang ke dalam kelompok-kelompok dan
tetapkan target bersama.
Hanya
dengan cara demikian Anda akan memindahkan gelombang bluetooth wacana ke dalam
gelombang tindakan yang riil. Anda harus
berani membawa mereka ke dalam pengambilan resiko yang riil. Orang-orang yang berwacana cenderung
menghindari resiko dan hanya hidup dalam indahnya perkataan, bukan
tindakan. Namun sekali mereka terlibat
dalam tindakan, mereka akan menjadi riil entrepreneur, risk taker, dan dream maker.
Di
zaman serba cepat, di era serba terbuka, dan di dunia yang kaya pengetahuan
ini, tugas pemimpin adalah memutus gelombang wacana agar negeri ini menjadi
"lebih hidup", bebas dari dengki dan dendam. Saya perlu mengingatkan, ilmuwan pintar
sekalipun banyak sekali yang terlibat dalam gosip dan kebiasaan buruk berwacana
tiada ujung. Mereka mengatakan
pikirannya ilmiah dan data yang diambilnya valid, namun sesungguhnya mereka
banyak mengambil gosip yang didapat dari
wacana ke wacana. Mereka memiliki
grlombang bluetooth yang sama yang dimiliki
orang kebanyakan.
Ilmuwan
sejati bukanlah ilmuwan berwacana, melainkan. Karyanya bukan hanya kertas,
melainkan museum hidup atau patent.
Demikian pulalah aktivis dan pekerja sosial sejati. Hidupnya bukan dari wacana ke wacana,
melainkan walk the talk. Sekecil apapun, sebuah karya riil jauh lebih
bermartabat daripada obrolan di media massa yang terlihat hebat namun tiada
berujung. Matikanlah gelombang bluetooth
Anda sekarang juga, tak usah menunggu setelah hari raya tiba untuk melakukan tindakan nyata.
Senin, 24 Juni 2013
Simple Indications
SIMPLE
INDICATIONS
Bismillah ...
Ehm
– ehm !!
Wokey,
kali ini Loe terpaksa baca apa – apa yang sekilas Gue anggap menjadi suatu
indikasi, entah itu indikasi baik maupun buruk, baik dalam lingkup personal
maupun komunal, yang jelas, bagi Gue indikasi – indikasi dibawah ini dah cukup
kuat buat landasan kita untuk menebak – nebak seperti apakah sebenarnya orang
atau lingkungan yang baru kita kenal atau temui – datangi itu (MUNGKIN). Tapi berupa
point, diantaranya:
1.
Parkiran, kalau Gue sih biasa nemuinnya
di parkiran Kampus atau Masjid, kalau parkirannya rapi + tanpa petugas parkir,
pastinya ada indikasi besar kalau Mahasiswa/i nya mudah ditata, hidup gak
seenaknya, lebih berpikir kedepan dalam kehidupan sosial, gak Ndeso
2.
Sandal Masjid, kalau disuatu Masjid kita
nemuin bejubel sandal yang gak rapi, itu pertanda kalau masyarakatnya masih belum cukup tertata, hampir sama sama "Parkiran Mode"
3.
Ngaji, biasanya sih Gue temuin di Ikhwan
– ikhwan yang lagi ngaji, kalau ngajinya cepet, biasanya dia orangnya gak bisa
atau susah berpikir atau berbuat sesuatu dengan tenang, sulit menghayati makna
terdalam akan suatu pelajaran/hikmah, bahkan kecenderungan untuk buru – burunya
pun ada.
4.
Berkendara, gak Cewek- Gak Cowok,
sebenarnya gampang sih nebak orang yang suka buru – buru atau ngebut saat
berkendara, bagi Gue, itu tandanya dia suka atau lagi kesiangan, tapi kalau
kesiangannya jadi kebiasaan, ya jadinya buru – buru terus, malah bisa – bisa
segala aspek pekerjaannya pun dikerjakannya dengan cara buru – buru karena kesiangan
atau keterlambatannya dalam memulai pekerjaan.
5.
SMS, kalau ada orang yang sms nya gak
disingkat – singkat, alias lengkap setiap kata – besar hurufnya – titik komanya
diperhatiin, Wah !! itu tandanya orang yang cerdas dan memiliki apresiasi yang
tinggi ke orang lain, Gue jamin, itu orang pasti Bijak, soalnya, baginya, SMS
disingkat – singkat seolah menandakan kalau kita gak punya cukup waktu untuk
berkomunikasi. Kalau dalam hal kecil ini aja dia begitu Bijak, apalagi langsung
ketemu orangnya.
6.
Wudhu, kalau ada orang yang wudhunya
ngeluarin airnya kenceng – kenceng !! itu mah tandanya orangnya masih belum
sadar tentang pemakaian air yang secukupnya, alias masih bersikap boros,
terlebih gak jauh juga kan orang kayak gitu wudhunya buru – buru, malah tambah ketebak
deh buruknya !!
7.
Mobil, kalau Loe pernah ngalamin kayak
Gue, yakni nyenggol mobil dan itupun gak membuat lecet mobil tetapi yang punya
mobil ngomel, itu tandanya dia Orang Kaya tapi Pas – Pasan, coba kalau dia
orang yang bener – bener kaya, pasti lecet gak jadi masalah baginya, kan dia
banyak duit, No Problem !!
8.
Kendaraan Pribadi, Pakaian, atau HP,
dlsb, ada dua kemungkinan seseorang memiliki barang pribadi yang bagus: 1)
sekedar pengen terlihat keren atau trendy aja atau bisa juga sebenarnya dia cuma
ikut – ikutan/ korban majalah 2) Ingin menarik perhatian orang lain, biasanya
yang belum punya pasangan atau pengen punya pasangan lebih dari satu.
9.
Ke Perpustaan, biasanya mereka yang ke
Perpus orang – orangnya pun terdiri dari 3 jenis: 1) Kuper, 2) Gak punya Pacar,
3) Kutu Buku
10.
Oganisasi, biasanya kalau lagi rapat
kecil atau rapat besar semisal Rapat Akhir Tahun, jika suatu Organisasi lambat
atau bertele – tele dalam menyelesaikan hal – hal yang bersifat teoritis
pastinya gak akan cepet dia menyelesaikan hal – hal yang bersifat praktis.
11.
Makan, biasanya kalau kita disuguhin
makanan, terus ada orang diantara kita yang ngambil makanannya duluan, itu
tandanya minat dia terhadap makanan lebih mencolok daripada orang yang
setelahnya mengambil makanan (doyan makan).
12.
Uang. Biasanya kalau ada orang yang
duitnya lecek (walaupun ambl dari saku + berdompet tebal), itu punya tanda
kalau dia sebenarnya gak cukup bisa ngejaga atau merawat harta. Apalagi pas
ngambil sakunya buru – buru karna uangnya nyelip di pojok saku.
Udah, segitu aja, tar kalau banyak – banyak bisa
berabe Loe, ingat, walaupun ini Pure terbukti dalam kehidupan Gue, tapi Gue
saranin ke Loe untuk tidak semena – mena dalam menilai sesuatu.
Alhamdulillah ...
Terimakasih Simple
Indications
Langganan:
Postingan (Atom)




